Wednesday, December 15, 2010

KISAH SIMULASI SYUKUR

Sebuah toko satu-satunya di dunia yang menjual “Anak” baru saja dibuka di kota Jakarta. Dimana pasangan muda yang baru saja menikah dapat memilih anak-anak yang mereka inginkan di toko ini.. Toko ini terdiri dari 6 lantai dan berada di jantung kota Jakarta.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk toko ANAK ini, terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut. "Kamu hanya dapat mengunjungi TOKO INI SATU KALI SAJA seumur hidupmu dan juga hanya dapat mengunjungi tiap LANTAI SATU KALI saja.

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan calon anak yang bisa dipilih. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai anak tersebut. Tapi ingat dan hati-hati karena di dalamnya ada JEBAKAN.

Kamu dapat memilih anak di lantai tertentu atau mungkin lebih memilih ke lantai berikutnya tetapi dengan satu syarat bahwa setelah kamu tinggalkan lantai tersebut maka kamu tidak bisa turun ke lantai sebelumnya kecuali untuk turun keluar dari toko melalui tangga darurat yang ada di samping gedung.

Untuk membeli satu atau beberapa anak di sini tidak perlu membayar dengan Uang, cukup kamu bayar dengan Rasa Syukur dan Ucapan Terimakasih. Maka anak yang kamu pilih bisa langsung kamu bawa pulang.

Setelah 3 tahun berselang, datanglah sepasang orang tua yang belum juga memiliki anak pergi ke “TOKO ANAK" tersebut untuk mencari calon anak yang didambakannya.

Setelah memahami semua aturan mainnya, maka segeralah pasangan orang tua ini menaiki lantai Pertama.

Di lantai Pertama terdapat tulisan seperti ini :
Ini Lantai Pertama : Anak-anak di lantai ini semuanya sehat dan sempurna tanpa cacad sedikitpun.
Pasangan Orang tua tersebut tersenyum sambil sedikit melirik, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Di lantai Kedua terdapat tulisan seperti ini :
Ini Lantai Dua : Anak-anak di lantai ini semuanya sehat, sempurna dan penurut.
Kembali Pasangan Muda itu melirik kearah anak-anak tersebut, berhenti sejenak dan tersenyum lalu segera naik ke lantai selanjutnya dengan penuh harap.

Di lantai Ketiga terdapat tulisan seperti ini :
Ini Lantai Tiga : Anak-anak di lantai ini semuanya sehat, sempurna penurut dan cerdas.

Wow..inilah yang aku cari pikirnya dalam bathin, tetapi hatinya masih penasaran dan ingin mendapatkan yang lebih baik lagi. Lalu sampailah wanita itu di lantai 4 dan terdapat tulisan

Ini Lantai empat : Anak-anak di lantai ini semuanya sehat, sempurna, penurut, cerdas, rajin membantu orang tua dan cakep-cakep.

Ya ampun ! Mereka berseru, Kami hampir tak percaya ! Tapi hati mereka berkata, mengapa aku tidak cari yang lebih baik lagi dari mereka semua..? Hingga akhirnya dia memutuskan untuk melanjutkan naik ke lantai 5 dan di lantai lima terdapat tulisan seperti ini :

Ini Lantai Lima : Anak-anak di lantai ini semuanya sehat, sempurna, penurut, cerdas, rajin membantu orang tua, cakep-cakep, menyenangkan, prilakunya ramah dan santun tapi semuanya perempuan.

Pasangan ini berhenti sejenak tertegun memandangi anak-anak tersebut, tapi hati mereka tergoda untuk berpikir, "mengapa aku tidak cari yang PALING SEMPURNA dari mereka semua dan mestinya ada anak laki-lakinya dong ?" Bisik sang suami pada istrinya.

Kemudian dengan penuh harap pasangan muda ini melangkah kembali menuju lantai 6 dan disini terdapat tulisan seperti ini :

Ini Lantai Enam : Anda adalah pengunjung yang ke 7.363.713. Tidak ada satupun anak laki-laki atau perempuan di lantai ini.Lantai ini hanya semata-mata bukti bahwa manusia tidak pernah bersyukur dan berterima kasih akan apa yang telah diterimanya.

Kami ucapakan Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Hati-hati ketika keluar dari toko ini melalui tangga darurat dan semoga anda tetap bisa bersyukur meskipun anda tidak berhasil mendapatkan seorang anakpun untuk menghiasi kebahagiaan hidup anda berdua.


TTD


Orang Cantik
PIMPINAN TOKO

KISAH TUKANG AIR DAN TEMPAYAN

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar. Masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak. Sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.

Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan yg retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidak-sempurnaannya, dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannnya.

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, "Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."

"Kenapa?" tanya si tukang air. "Kenapa kamu merasa malu?"

"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacadku itu, saya telah membuatmu rugi." kata tempayan itu.

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak. Dan dalam belas kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan. Dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Dan itu membuatnya sedikit terhibur.

Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya.
Si tukang air berkata kepada tempayan itu, "Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu, tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu karena aku selalu menyadari akan cacadmu, dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu. Dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang."

Wednesday, December 1, 2010

[KiSaHKeHiDuPaN]

Kisah Seekor Kerang


Malam ini angin berhembus lembut, permukaan laut tenang , ada sedikit cahaya rembulan menerobos masuk ke dasar laut dimana seekor kerang sedang duduk menikmati suasana temaram dan tenang. Gelombang lembut di dasar laut sana membawa pasir-pasir menari mengikuti arus bermain. 
Sebutir pasir masuk kedalam tubuh kerang, membuat sang kerang kaget. Heiii, siapakah kau gerangan, sang kerang bertanya. Aku adalah pasir, gelombang lautlah yang membawa aku ketempatmu. Siapakah kau ? tanya sang pasir. Aku kerang, penghuni dasar lautan ini. 
Demikianlah perkenalan sang kerang dengan butir pasir tersebut. Perkenalan  tersebut  pada awalnya hampa rasanya, mungkin hanya ibarat sebutir  pasir  besarnya.  Sampai  suatu  saat,  sang dewi rembulan melihat persahabatan  yang hampa tersebut. Sang dewi berkata, wahai kerang tidakkah kau dapat lebih mencurahkan rasa persahabatan mu pada butir pasir lembut tersebut,  dia  begitu  kecil  dan  lembut. Mulai sekarang biar aku mengajarkan  bagaimana  rasa  persahabatan  itu agar hidupmu lebih berarti.
Dengan  lembut  sang dewi mengajarkan, tidak sia-sia apa yang diajakan sang dewi  rembulan,  persahabatan  antara sang kerang dengan butir pasir lembut tersebut  berbuah  hasil.  Ada  canda,  ada  tawa,  mereka berbagi masalah. Persahabatan  itu telah merubah butir pasir lembut tersebut menjadi sebutir mutiara  muda  yang  berwarna putih. Warna putih tersebut merupakan warisan sang dewi rembulan kepada mereka. Disuatu siang yang terik , pada saat mereka sedang berbagi rasa di  dasar laut  yang  berselimut  pasir  putih. Tiba-tiba mereka mendengar seruan..
hai sahabat, apa yang sedang kalian lakukan ? 
Sang kerang menjawab "siapakah engkau gerangan ? "Wahai  kerang  tidakkah  engkau  mengenali  aku  ? aku Surya, dewa penguasa matahari   yang   menyinari   seluruh  bumi  di  siang  hari.  Aku melihat persahabatan  mu  dan  mutiara muda itu tulus sekali. Sang kerang menjawab, itu  merupakan  hasil  didikan  dewi  rembulan  yang lembut dan penuh cinta kasih. " Kalau begitu, biar aku lengkapi ajaran sang dewi, biar aku ajarkan kepada kalian tentang hangatnya cinta", jawab sang matahari.
Seiring  terbit  dan  tenggelamnya  mentari,  sang  raja  surya memupuk sang kerang dan mutiara muda dengan perasaan cinta. Jatuh cintalah sang kerang  dengan  mutiara  muda  itu. Mutiara muda itu sekarang menjadi sebutir  mutiara  putih bersih dan berkilau mewarisi sifat sang dewa surya,
dan dibalut dengan cinta sang kerang, indah sekali.
Hidup  sang  kerang  dan  butir mutiara itu indah sekali, cinta mereka tulus,  berbagai  duka,  suka  ,  mereka  lalui  bersama. Tidak ada hari-hari seindah hari-hari yang mereka lalui.
Suatu  hari  seekor  ikan  yang lewat berkata kepada sang butir mutiara  "wahai  mutiara elok, tahun depan Raja dari kerajaan di sebarang sana  akan mengadakan  pemilihan  mutiara  terindah, tidakkah kau tertarik untuk mengikutinya,  rupamu elok, aku yakin raja akan memilihmu" kata sang ikan
"Benarkah  begitu  ?"  tanya  sang  mutiara.  "Aku  akan menyampaikan kabar gembira ini pada sang kerang kekasihku ", sambung sang mutiara.  Mulai saat itu  sang  mutiara  rajin  mempercantik diri, sang kerang juga memberinya semangat  dan  dorongan.  Namun  sang  kerang  tidak menyadari, keinginan besar sang mutiara untuk menang telah merubah sikap sang mutiara.  Sampai suatu  hari  mutiara  tersebut  berkata  kepada sang kerang " wahai kekasihku  kerang,  perlombaan  itu  hampir  tiba saatnya, aku ingin keluar sebagai  pemenang,  aku ingin mencapai cita-citaku, adalah lebih baik mulai saat  ini  kau  menjadi  temanku  saja,  bukan  seorang  kekasih. Aku ingin mencurahkan seluruh perhatianku untuk lomba itu, aku tidak mau terganggu" .
Kata-kata tersebut melukai perasaan sang kerang, airmata jatuh "kenapa kau melakukan  ini  padaku,  aku  menyayangimu  dengan  segenap hatiku, tidakkah engkau tau perasaanku, aku memang tidak mudah mengungkapkan perasaanku, aku kaku laksana kulitku yang keras, tapi mengapa ?.. ?"
"Kerang  yang  baik,  untuk apa engkau menangis, aku akan tetap menjadi sahabatmu, aku tetap akan menjaga hubungan kita" kata sang mutiara
Akhirnya  tiba  waktu  perlombaan  tersebut, sang raja langsung jatuh  hati kepada butir mutiara tadi. "Inilah mutiara terindah yang pernah aku jumpai, aku  memilihnya"  kata  sang  raja. 
Akhirnya mutiara tersebut bersanding menjadi liontin sang raja. Setiap hari sang raja mengaguminya.
Sang  mutiara  telah  melupakan  sang kerang, sang mutiara asik melayani sang raja. Tinggallah sang kerang yang kembali duduk di keheningan di dasar laut  sana,  sepi, hampa  hidup  sang  kerang itu. Setiap hari ia menunggu sang  angin  menyampaikan kabar dari sang mutiara, satu hari, dua hari,seminggu tidak ada kabar dari sang mutiara.
"Biarlah  aku  menitip  pesanku pada sang angin untuk mutiaraku" pikir sangkerang.
"Wahai  angin,  sampaikan  rasa  rinduku  pada mutiaraku yang ada di negeri seberang  sana"  pekik sang kerang. Sang angin menyampaikan pesan tersebut.
Namun  apa  kata  sang mutiara indah " angin, sampaikan kepada sang kerang,
jangan  ganggu  aku,aku  sibuk sekali melayani sang raja,dan sampaikan juga padanya untuk mencari mutiara lain saja".
Kabar  ini  membuat sang kerang sedih, namun dalam kesedihannya rasa sayang sang  kerang  terhadap  sang  mutiara  mengalahkan rasa kecewanya, ia tetap berdoa pada Ilahi agar sang mutiara berbahagia.

Nah  sahabat  dalam  kehidupan  nyata ini banyak persahabatan yang berakhir dengan sebuah hubungan cinta, jika kedua belah pihak punya komitmen,dan mau menanggung  duka  dan  suka bersama-sama, hubungan itu bisa berakhir dengan sebuah  jenjang  pernikahan  yang  suci.  
Namun  bisa  juga  percintaan itu berakhir dengan sebuah permusuhan yang mengakibatkan kedua belah pihak atau salah satunya terluka, kalaupun cinta itu dapat berakhir lagi dengan sebuah persahabatan, percayalah rasa persahabatan itu akan lain, akan hambar. 
Luka dari  cinta  itu  Cuma  bisa  disembuhkan  oleh  waktu. Apakah anda memilih menjadi kerang tersebut atau mutiara indah tersebut ? Terserah anda.

Kirimkan  cerita  ini  pada orang-orang yang kamu anggap sahabat, kekasih ,
atau  orang-orang  yang  kamu  anggap berarti dalam hidupmu , hanya sebagai
sebuah bahan renungan.

Monday, November 29, 2010

SAHABAT

Suatu hari, ketika saya(cowok) masih duduk dikelas 1 SMA, saya melihat seorang anak dari kelas saya berjalan pulang dari sekolah .  Namanya Kyle (cowok). Seperti ia menenteng semua bukunya. Lalu saya pikir, " kenapa ada orang yg masih mau membawa bukunya pulang pada hari Jumat. " Pasti dia anak yang aneh, karena kalau saya pikir setiap akhir pekan acara saya sudah padat terencana, ya pesta, pertandingan sepak bola, dan lain - lain. Jadi, sambil menggelengkan kepala,aku melangkah. Tiba - tiba saya melihat sekelompok anak kecil berlari ke arahnya, dan dengan sengaja menabraknya.  Bukunya berhamburan, dan ia pun jatuh ketanah berlumpur. Kacamatanya melayang jatuh ke rerumputan, kira - kira 10 kaki jauhnya dari tempat dimana Ia jatuh.. Ia menatap ke atas, dan kulihat kesedihan yang amat mendalam diwajahnya.  Hatiku tergerak, dan merasa kasihan kepadanya. Aku melangkah perlahan menghampirinya. Sambil merangkak , Ia melihat ke sekeliling, mencari kacamatanya.  Kulihat matanya berlinang.  Kuambil kacamatanya dan kuberikan padanya.  " Anak - anak tersebut memang sangat nakal," kataku kepadanya.  Ia menatapku dan berucap lembut :  " Hey, terima kasih"
Ia tersenyum lebar. itulah senyuman tertulus, tanda ucapan terima kasih, yang pernah kulihat selama ini. 
Aku bantu dia mengumpulkan buku - bukunya yang berserakan, sambil kutanya dimana Ia tinggal.  Ternyata, Ia tinggal dekat rumahku.  Aku lalu bertanya, kalau dia memang tinggal dekat rumahku, bagaimana mungkin aku belum pernah melihat dia sebelumnya.  Ia bercerita bahwa sebelumnya ia sekolah di sebuah sekolah swasta.  Aku memang belum pernah bergaul dengan anak dari sekolah swasta sebelumnya.
Sepanjang jalan ia bercerita, sementara buku - bukunya kubawakan. Ternyata, ia anak manis juga. Aku tanyai apakah dia mau bermain sepakbola bersama saya, dan ia menjawab : "ya ", dengan bersemangat. Kami berjalan bersama sepanjang akhir pekan, dan ternyata , semakin kukenal Kyle, semakin suka aku padanya. Teman - temanku juga menyukainya.

Hari Senin tiba dan kulihat Kyle dengan setumpuk bukunya lagi.  Kudekati dia dan kukatakan sambil bercanda: "Gila kamu,Kyle!  Kamu bisa mengencangkan otot -ototmu dengan mengangkut buku - bukumu setiap hari." Ia cuma tertawa dan memberikan separuh bukunya kepadaku.  Selama 4 tahun kemudian, kami terus bersahabat. Ketika kami sudah duduk di kelas senior, dan kami harus mulai memikirkan tentang Universitas, Kyle memutuskan untuk melanjutkan ke Georgetown, dan saya berencana ke Duke.  Saat itu saya tahu, bahwa persahabatan kami akan terus abadi, dan bahwa jarak yang memisahkan kami tidak akan menjadi penghalang. Ia akan menjadi seorang dokter, dan saya akan mengambil jurusan bisnis, karena saya mendapatkan beasiswa dari kegiatan sepakbola saya.

Kyle memang seorang bintang kelas dan aku bahkan sering menggodanya sebagai kutu buku.  Sebagai bintang kelas, Ia harus menyiapkan pidato perpisahannya. Pada Saat - saat seperti itu, aku bersyukur, bukan aku yang harus berdiri di mimbar dan dan berpidato.

Persis pada hari wisuda kami, aku lihat Kyle tampak begitu gagah.  Benar-benar seorang anak SMA yang kerja keras dan berhasil yang sungguh - sungguh patut dicontoh. Teman ceweknya banyak.  Dalam hal satu ini aku sering iri padanya .  Tapi aku juga melihat bahwa ia sangat gelisah menjelang saat pidatonya. Maka aku dekati dia dan kutepuk punggungnya :  "Hai, Kawan ! pasti OK." Dia terdiam melihatku dengan tatapan yang sungguh - sungguh penuh terima kasih, lalu katanya dalam - dalam :" terima kasih ."

Ketika hendak memulai pidatonya, dia mengambil nafas dalam - dalam dan mulai berkata: "Wisuda adalah saat untuk mengucapkan terima kasih kepada orang -orang yang telah membantu kita melewati masa - masa yang berat.  Orangtua kita, guru - guru, teman sekamar, mungkin para tutor, tetapi yang paling banyak adalah teman. Saya berdiri disini dan akan menceritakan sebuah kisah nyata."

Aku menatapnnya dengan rasa tidak percaya pada apa yang kemudian kudengar.Ia bercerita bahwa suatu hari ia merasa sangat putus asa, hingga ia berniat hendak bunuh diri diakhir minggu. Ia memulai dengan mengosongkan lockernya supaya mamanya tidak repot nantinya, dan ia mengangkut semua bukunya pulang.
Sambil terus bercerita, ia menatapku sambil tersenyum.  "Untungnya, saya
diselamatkan. Seorang teman saya menyelamatkan saya dari rencana putus asa tersebut.
"Saya menangkap getaran dalam suaranya, dan ia terdiam mengambil nafas dan mengatur emosinya kembali. Saya juga menangkap emosi para hadirin, hampir semua para menahan nafas dan terhanyut dalam cerita tersebut.  Semua mata menatap pemuda pintar dan tampan yang sungguh populer itu menceritakan kenangannya tatkala melewati masa yang paling sulit dalam hidupnya. Saya juga melihat orangtuanya melihat kearahku dengan tersenyum.  Belum pernah aku merasakan rasa yang begitu mendalam.. Teman, jangan sekali kali meremehkan tindakan yang anda lakukan.  Bahkan dengan tindakan kecil-pun anda dapat saja mengubah hidup orang lain. 

"Sahabat adalah malaikat yang mengangkat kita tatkala kita lupa bagaimana caranya terbang."




Sunday, November 28, 2010

Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi
dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada
sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat
penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu
terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan
handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir
hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena
tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu
hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan
sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu,
sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi
kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta
sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan
sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain
daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana
Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta,
apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana
Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain,
sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi
pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak
berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat
meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para
pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang
melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi
berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Saturday, November 27, 2010

Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat
karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang
tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya,
ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan
sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa
dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai
bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang
lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan
membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan
gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan
karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk
mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu
melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda
mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan
gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis
kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang
masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat
sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan
membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang
dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh
250 km menuju rumah ibunya. (diadaptasi dari: Rose for
Mama - C.W. McCall)

Wednesday, October 13, 2010

SYAIR PENJUAL KACANG

Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan
kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri
dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam,
Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para
jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam. "Salah seorang dari kalian
keluarlah sejenak dari ruang ini, " katanya, "Di halaman depan sedang
berdiri seorang penjual kacang godok.Keluarkan sebagian dari uang kalian,
belilah barang beberapa bungkus."

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan
beberapa saat kemudian.
"Makanlah kalian semua," lanjut Al-Habib, "Makanlah biji-biji kacang itu,
yang diciptakan oleh Alloh
dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan."
Para jamaah tak begitu
memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang,
wajah mereka tampak kosong.

"Setiap penerimaan dan pengeluaran uang," kata Al-Habib, "hendaklah
dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan.Bagaimana mencari uang,
bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada
siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi
derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh
kemuliaan." "Tetapi ya Habib," seorang bertanya, "apa hubungan antara kita
beli kacang malam ini dengan kemuliaan?" Al-habib menjawab, "Penjual kacang
itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia
menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung.Di malam hari
pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh
membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun.Itu taqwa namanya. Berbeda
dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh,
sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas
melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun
saja asal mendatangkan uang." Suasana menjadi hening.Para jamaah menundukkan
kepala dalam-dalam.

Dan Al-Habib meneruskan, "Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di
rumah, meunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman.Mereka ikhlas
dalam keadaan itu.Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang
secara jalan pintas lainnya.Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah
ia akan tahan berjam-jam berjualan."

"Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?" Al-Habib bertanya, "Lebih
muliakah kalian dibanding
penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat
penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi
maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada
perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan
orang kecil?"

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, "Mahamulia Alloh yang menciptakan
kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, serta mulia
pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap
kemuliaan....". Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh
Al -Habib erat-erat.

* dari :
Emha Ainun Nadjib
Seribu masjid Satu jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 1995

Saturday, June 19, 2010

SEBUAH RENUNGAN

















Disaat kamu ingin melepaskan seseorang..ingatlah

pada saat kamu ingin mendapatkannya

Disaat kamu mulai tidak mencintainya...ingatlah


saat pertama kamu jatuh cinta padanya

Disaat kamu mulai bosan dengannya...ingatlah selalu saat terindah bersamanya

Disaat kamu ingin menduakannya...bayangkan jika dia selalu setia

Saat kamu ingin membohonginya...ingatlah disaat dia jujur padamu

Maka kamu akan merasakan arti dia untukmu

Jangan sampai di saat dia sudah tidak disisimu,

Kamu baru menyadari semua arti dirinya untukmu

Yang indah hanya sementara

Yang abadi adalah kenangan

Yang ikhlas hanya dari hati

Yang tulus hanya dari sanubari

Tidak mudah mencari yang hilang

Tidak mudah mengejar impian

Namun yg lebih susah mempertahankan yg ada

Karena walaupun tergenggam bisa terlepas juga

Ingatlah pada pepatah,

"Jika kamu tidak memiliki apa yang kamu sukai, maka sukailah apa yang kamu miliki saat ini"

Belajar menerima apa adanya dan berpikir positif....

Hidup bagaikan mimpi, seindah apapun, begitu bangun semuanya sirna tak berbekas

Rumah mewah bagai istana, harta benda yang tak terhitung, kedudukan, dan jabatan yg luar biasa, namun...

Ketika nafas terakhir tiba, sebatang jarum pun tak bisa dibawa pergi

Sehelai benang pun tak bisa dimiliki

Apalagi yang mau diperebutkan

Apalagi yang mau disombongkan

Maka jalanilah hidup ini dengan keinsafan nurani

Jangan terlalu perhitungan

Jangan hanya mau menang sendiri

Jangan suka sakiti sesama apalagi terhadap mereka yang berjasa bagi kita

Belajarlah tiada hari tanpa kasih

Selalu berlapang dada dan mengalah

Tak ada yang tak bisa di ikhlaskan....

Tak ada sakit hati yang tak bisa dimaafkan

Tak ada dendam yang tak bisa terhapus....


sumber : Catatan Marriage Rebuilders: Sebuah renungan..yg membuatku kembali tersenyum.

Friday, April 30, 2010

Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun
berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia
terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh
sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.

"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung
recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan
raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre
di belakang pembeli ingusan itu.

"Kalau plain cream berapa?"

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, "Tiga
ribu lima ratus".

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau
sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang
sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan
sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor
yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas
dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang
logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar,
sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan
keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini
adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan
sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

Friday, April 23, 2010

Kisah_Kisah iNspiratif

SYAIR PENJUAL KACANG
Emha Ainun Nadjib (1987)

Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan
kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri
dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam,
Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para
jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam. "Salah seorang dari kalian
keluarlah sejenak dari ruang ini, " katanya, "Di halaman depan sedang
berdiri seorang penjual kacang godok.Keluarkan sebagian dari uang kalian,
belilah barang beberapa bungkus."

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan
beberapa saat kemudian.
"Makanlah kalian semua," lanjut Al-Habib, "Makanlah biji-biji kacang itu,
yang diciptakan oleh Alloh
dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan."
Para jamaah tak begitu
memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang,
wajah mereka tampak kosong.

"Setiap penerimaan dan pengeluaran uang," kata Al-Habib, "hendaklah
dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan.Bagaimana mencari uang,
bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada
siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi
derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh
kemuliaan." "Tetapi ya Habib," seorang bertanya, "apa hubungan antara kita
beli kacang malam ini dengan kemuliaan?" Al-habib menjawab, "Penjual kacang
itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia
menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung.Di malam hari
pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh
membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun.Itu taqwa namanya. Berbeda
dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh,
sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas
melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun
saja asal mendatangkan uang." Suasana menjadi hening.Para jamaah menundukkan
kepala dalam-dalam.

Dan Al-Habib meneruskan, "Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di
rumah, meunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman.Mereka ikhlas
dalam keadaan itu.Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang
secara jalan pintas lainnya.Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah
ia akan tahan berjam-jam berjualan."

"Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?" Al-Habib bertanya, "Lebih
muliakah kalian dibanding
penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat
penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi
maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada
perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan
orang kecil?"

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, "Mahamulia Alloh yang menciptakan
kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, serta mulia
pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap
kemuliaan....". Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh
Al -Habib erat-erat.

* dari :
Emha Ainun Nadjib
Seribu masjid Satu jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 1995