Monday, November 29, 2010

SAHABAT

Suatu hari, ketika saya(cowok) masih duduk dikelas 1 SMA, saya melihat seorang anak dari kelas saya berjalan pulang dari sekolah .  Namanya Kyle (cowok). Seperti ia menenteng semua bukunya. Lalu saya pikir, " kenapa ada orang yg masih mau membawa bukunya pulang pada hari Jumat. " Pasti dia anak yang aneh, karena kalau saya pikir setiap akhir pekan acara saya sudah padat terencana, ya pesta, pertandingan sepak bola, dan lain - lain. Jadi, sambil menggelengkan kepala,aku melangkah. Tiba - tiba saya melihat sekelompok anak kecil berlari ke arahnya, dan dengan sengaja menabraknya.  Bukunya berhamburan, dan ia pun jatuh ketanah berlumpur. Kacamatanya melayang jatuh ke rerumputan, kira - kira 10 kaki jauhnya dari tempat dimana Ia jatuh.. Ia menatap ke atas, dan kulihat kesedihan yang amat mendalam diwajahnya.  Hatiku tergerak, dan merasa kasihan kepadanya. Aku melangkah perlahan menghampirinya. Sambil merangkak , Ia melihat ke sekeliling, mencari kacamatanya.  Kulihat matanya berlinang.  Kuambil kacamatanya dan kuberikan padanya.  " Anak - anak tersebut memang sangat nakal," kataku kepadanya.  Ia menatapku dan berucap lembut :  " Hey, terima kasih"
Ia tersenyum lebar. itulah senyuman tertulus, tanda ucapan terima kasih, yang pernah kulihat selama ini. 
Aku bantu dia mengumpulkan buku - bukunya yang berserakan, sambil kutanya dimana Ia tinggal.  Ternyata, Ia tinggal dekat rumahku.  Aku lalu bertanya, kalau dia memang tinggal dekat rumahku, bagaimana mungkin aku belum pernah melihat dia sebelumnya.  Ia bercerita bahwa sebelumnya ia sekolah di sebuah sekolah swasta.  Aku memang belum pernah bergaul dengan anak dari sekolah swasta sebelumnya.
Sepanjang jalan ia bercerita, sementara buku - bukunya kubawakan. Ternyata, ia anak manis juga. Aku tanyai apakah dia mau bermain sepakbola bersama saya, dan ia menjawab : "ya ", dengan bersemangat. Kami berjalan bersama sepanjang akhir pekan, dan ternyata , semakin kukenal Kyle, semakin suka aku padanya. Teman - temanku juga menyukainya.

Hari Senin tiba dan kulihat Kyle dengan setumpuk bukunya lagi.  Kudekati dia dan kukatakan sambil bercanda: "Gila kamu,Kyle!  Kamu bisa mengencangkan otot -ototmu dengan mengangkut buku - bukumu setiap hari." Ia cuma tertawa dan memberikan separuh bukunya kepadaku.  Selama 4 tahun kemudian, kami terus bersahabat. Ketika kami sudah duduk di kelas senior, dan kami harus mulai memikirkan tentang Universitas, Kyle memutuskan untuk melanjutkan ke Georgetown, dan saya berencana ke Duke.  Saat itu saya tahu, bahwa persahabatan kami akan terus abadi, dan bahwa jarak yang memisahkan kami tidak akan menjadi penghalang. Ia akan menjadi seorang dokter, dan saya akan mengambil jurusan bisnis, karena saya mendapatkan beasiswa dari kegiatan sepakbola saya.

Kyle memang seorang bintang kelas dan aku bahkan sering menggodanya sebagai kutu buku.  Sebagai bintang kelas, Ia harus menyiapkan pidato perpisahannya. Pada Saat - saat seperti itu, aku bersyukur, bukan aku yang harus berdiri di mimbar dan dan berpidato.

Persis pada hari wisuda kami, aku lihat Kyle tampak begitu gagah.  Benar-benar seorang anak SMA yang kerja keras dan berhasil yang sungguh - sungguh patut dicontoh. Teman ceweknya banyak.  Dalam hal satu ini aku sering iri padanya .  Tapi aku juga melihat bahwa ia sangat gelisah menjelang saat pidatonya. Maka aku dekati dia dan kutepuk punggungnya :  "Hai, Kawan ! pasti OK." Dia terdiam melihatku dengan tatapan yang sungguh - sungguh penuh terima kasih, lalu katanya dalam - dalam :" terima kasih ."

Ketika hendak memulai pidatonya, dia mengambil nafas dalam - dalam dan mulai berkata: "Wisuda adalah saat untuk mengucapkan terima kasih kepada orang -orang yang telah membantu kita melewati masa - masa yang berat.  Orangtua kita, guru - guru, teman sekamar, mungkin para tutor, tetapi yang paling banyak adalah teman. Saya berdiri disini dan akan menceritakan sebuah kisah nyata."

Aku menatapnnya dengan rasa tidak percaya pada apa yang kemudian kudengar.Ia bercerita bahwa suatu hari ia merasa sangat putus asa, hingga ia berniat hendak bunuh diri diakhir minggu. Ia memulai dengan mengosongkan lockernya supaya mamanya tidak repot nantinya, dan ia mengangkut semua bukunya pulang.
Sambil terus bercerita, ia menatapku sambil tersenyum.  "Untungnya, saya
diselamatkan. Seorang teman saya menyelamatkan saya dari rencana putus asa tersebut.
"Saya menangkap getaran dalam suaranya, dan ia terdiam mengambil nafas dan mengatur emosinya kembali. Saya juga menangkap emosi para hadirin, hampir semua para menahan nafas dan terhanyut dalam cerita tersebut.  Semua mata menatap pemuda pintar dan tampan yang sungguh populer itu menceritakan kenangannya tatkala melewati masa yang paling sulit dalam hidupnya. Saya juga melihat orangtuanya melihat kearahku dengan tersenyum.  Belum pernah aku merasakan rasa yang begitu mendalam.. Teman, jangan sekali kali meremehkan tindakan yang anda lakukan.  Bahkan dengan tindakan kecil-pun anda dapat saja mengubah hidup orang lain. 

"Sahabat adalah malaikat yang mengangkat kita tatkala kita lupa bagaimana caranya terbang."




Sunday, November 28, 2010

Bung Hatta dan Kisah Sepatu Bally

PADA tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi
dan tentu tidak murah. Bung Hatta, Wakil Presiden pertama RI, berminat pada
sepatu Bally. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat
penjualnya, lalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

Namun, uang tabungan tampaknya tidak pernah mencukupi karena selalu
terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu kerabat dan
handai taulan yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga akhir
hayatnya, sepatu Bally idaman Bung Hatta tidak pernah terbeli karena
tabungannya tak pernah mencukupi.

Yang sangat mengharukan dari cerita ini, guntingan iklan sepatu Bally itu
hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan
sederhana dari seorang Hatta. Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu,
sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally.
Misalnya, dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi
kenalan Bung Hatta.

"Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta
sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan
sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain
daripada kepentingannya sendiri," kata Adi Sasono, Ketua Pelaksana
Peringatan Satu Abad Bung Hatta. Pendeknya, itulah keteladanan Bung Hatta,
apalagi di tengah carut-marut zaman ini, dengan dana bantuan presiden, dana
Badan Urusan Logistik, dan lain-lain.

Bung Hatta meninggalkan teladan besar, yaitu sikap mendahulukan orang lain,
sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi
pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak
berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya bangsa Indonesia dapat
meneladani karakter mulia proklamator kemerdekaan ini, seandainya para
pemimpin tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang
melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi
berutang dan meminta sedekah dari orang asing.

Saturday, November 27, 2010

Glitter Words
[Glitterfy.com - *Glitter Words*]

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat
karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang
tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya,
ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan
sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa
dan dijawab oleh gadis kecil, "Saya ingin membeli setangkai
bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang
lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu."

Pria itu tersenyum dan berkata, "Ayo ikut, aku akan
membelikanmu bunga yang kau mau." Kemudian ia membelikan
gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan
karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk
mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu
melonjak gembira, katanya, "Ya tentu saja. Maukah anda
mengantarkan ke tempat ibu saya?"

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan
gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis
kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang
masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat
sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan
membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang
dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh
250 km menuju rumah ibunya. (diadaptasi dari: Rose for
Mama - C.W. McCall)