Friday, April 30, 2010

Bocah Pembeli Es Krim

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun
berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia
terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh
sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

"Mbak sundae cream harganya berapa?" si bocah bertanya.

"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung
recehan di tangannya demngan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan
raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre
di belakang pembeli ingusan itu.

"Kalau plain cream berapa?"

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, "Tiga
ribu lima ratus".

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau
sepiring plain cream saja, Mbak," kata si bocah sambil memberikan uang
sejumlah harga es yang diminta. Si pramusaji pun segera mengangsurkan
sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor
yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas
dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang
logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi.
Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar,
sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan
keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini
adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan
sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

Friday, April 23, 2010

Kisah_Kisah iNspiratif

SYAIR PENJUAL KACANG
Emha Ainun Nadjib (1987)

Al-Habib , seorang yang dikasihi oleh banyak orang dan senantiasa didambakan
kemuliaan hatinya, malam itu mengimami sholat isya suatu jamaah yang terdiri
dari para pejabat negara dan pemuka masyarakat.

Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam,
Al-Habib langsung membalikan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para
jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam. "Salah seorang dari kalian
keluarlah sejenak dari ruang ini, " katanya, "Di halaman depan sedang
berdiri seorang penjual kacang godok.Keluarkan sebagian dari uang kalian,
belilah barang beberapa bungkus."

Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan
beberapa saat kemudian.
"Makanlah kalian semua," lanjut Al-Habib, "Makanlah biji-biji kacang itu,
yang diciptakan oleh Alloh
dengan kemuliaan , yang dijual oleh kemuliaan dan dibeli oleh kemuliaan."
Para jamaah tak begitu
memahami kata-kata Al-habib,sehingga sambil menguliti dan memakan kacang,
wajah mereka tampak kosong.

"Setiap penerimaan dan pengeluaran uang," kata Al-Habib, "hendaklah
dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan.Bagaimana mencari uang,
bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada
siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi
derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh
kemuliaan." "Tetapi ya Habib," seorang bertanya, "apa hubungan antara kita
beli kacang malam ini dengan kemuliaan?" Al-habib menjawab, "Penjual kacang
itu bekerja sampai larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi.Ia
menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung.Di malam hari
pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Alloh
membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun.Itu taqwa namanya. Berbeda
dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Alloh,
sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan hidupnya ia lantas
melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun
saja asal mendatangkan uang." Suasana menjadi hening.Para jamaah menundukkan
kepala dalam-dalam.

Dan Al-Habib meneruskan, "Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di
rumah, meunggu dua atau tiga ribu rupiah hasil kerja semalaman.Mereka ikhlas
dalam keadaan itu.Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang
secara jalan pintas lainnya.Kalau ia punya situasi mental mencuri, tidaklah
ia akan tahan berjam-jam berjualan."

"Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?" Al-Habib bertanya, "Lebih
muliakah kalian dibanding
penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat
penjual kacang itu dibanding kalian, atau di mata Alloh ia lebih tinggi
maqom-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa dihati kalian selalu ada
perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan
orang kecil?"

Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, "Mahamulia Alloh yang menciptakan
kacang, sangat mulia si penjual kacang itu dalam pekerjaannya, serta mulia
pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap
kemuliaan....". Salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh
Al -Habib erat-erat.

* dari :
Emha Ainun Nadjib
Seribu masjid Satu jumlahnya
Tahajjud cinta seorang hamba
Penerbit Mizan 1995